MANUSIA SETENGAH DEWA

Hidup dalam sebuah lingkungan masyarakat akan sangat besar kemungkinan terjadinya gesekan. Untuk mengatasi masalah ini dibutuhkan seseorang yang mampu mengayomi semuanya. Orang itu lazim disebut sebagai pemimpin.
Siapakah pemimpin? Ini bukan merupakan pertanyaan asing bagi kebanyakan orang. Sebab semenjak terbentuknya suatu lingkungan kehidupan masyarakat, pertanyaan tersebut akan muncul. Pertanyaan ini akan lebih actual manakala dalam lingkungan masyarakat tertentu terjadi penyalagunaan kekuasaan oleh pemimpin tertentu. Jika merenung sejenak dan mencoba memberi arti dari pemimpin maka kita akan menyatukan idealisme bersama Iwan Fals yakni pemimpin yang berjiwa manusia setengah dewa atau dalam bahasa Friederich Nietzche adalah Ubermench.
Pemimpin yang dibutuhkan adalah ia yang tidak menutup matanya terhadap penderitaan rakyat. Sebab ia ada karena rakyat ada, bukan sebaliknya. Oleh karena itu perhatian utamanya harus diarahkan kepada rakyat khususnya yang menderita.
Dalam acara Golden Ways yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta, Mario Teguh mengatakan bahwa seorang pemimpin adalah ia yang berusaha menjadikan rakyatnya besar, sebab masyarakat menggantungkan harapan mereka pada pemimpinnya itu. Artinya pemimpin harus bisa meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Seorang pemimpin juga harus memperhatikan para bawahannya sebab para bawahan telah mempersembahkan usia pengorbanannya sebagai bentuk kerja sama dalam memajukan masyarakat.
Pendek kata, dalam masa transisi kekuasaan masyarakat mengharapkan hadirnya sosok pemimpin yang walaupun berwujud manusia tetapi berhati dewa, atau dalam istilah Iwan Fals disebut sebagai manusia setengah dewa. Hadirnya pemimpin seperti ini tentunya merupakan dambaan setiap orang, karena secara umum diakui bahwa kesejahteraan masyarakat amat ditentukan seorang pemimpin. Pemimpin yang hadir sebagai manusia setengah dewa adalah ia yang mempunyai semangat dedikasi luar biasa, bukan saja dengan kata-kata akan tetapi lebih pada praktek hidup.
Seorang pemimpin adalah ia yang mempunyai rasa takut. Ia harus takut kalau dalam masa pemerintahannya visi-misinya hanya berkisar di atas kertas belaka tanpa ada realisasi di lapangan. Ia harus takut kalau seusai masa pemerintahannya segala macam persoalan belum terselesaikan bahkan menciptakan banyak persoalan baru. Ia juga harus takut jika para bawahannya tidak berkembang dan tidak bekerja secara bebas. Ia harus takut kalau di tempat kerja diselimuti suasana yang tidak nyaman, terjadi persaingan yang tidak sehat, terbentuk gap-gap. I harus mampu menyikapi suasana ini secara arif dan berbesar hati.
Pemimpin adalah the King, ia adalah raja, akan tetapi bawahannya adalah The King Makers atau para pembuat raja. Raja akan terjungkal jika bawahannya berpaling dari padanya. Para bawahan akan melakaukan hal demikian manakala sang pemimpin menutup mata terhadap bawahannya. Kesuksesan seorang pemimpin pada dasarnya bukan atas kerja kerasnya, akan tetapi semua itu tercipta berkat perjuangan dan dedikasi para bawahan. Oleh karena itu jangan pernah menganggap sepeleh dengan para bawahan.
Manusia Setengah Dewa yang diidealkan oleh seorang Iwan Fals adalah seorang pemimpin yang sungguh membaktikan dirinya sesuai jabatannya. Pemimpin yang sungguh mendedikasikan dirinya bagi orang kebanyakan. Pemimpin adalah dia yang tahu mengorganisir semua aparat untuk melaksanakan tugas mulia yaitu mensejahterahkan kehidupan bersama. Pemimpin itu harus memiliki telinga yang lebar sehingga peka dan mampu mendengar jeritan-penderiantaan rakyat dan tahu memprioritaskan hal-hal tertentu. Pemimpin itu harus memiliki mata yang besar yang bisa melihat segala hal yang terjadi dalam lingkungan wilayahnya dengan demikian ia mampu mencari dan menemukan solusi dari sekian banyak persoalan itu.
Pemimpin adalah orang yang terbuka terhadap berbagai masukan dan kritikan sebab dengan itu ia berkembang dan terbentuk mejadi leader yang baik. Pemimpin adalah orang yang bijaksana dan bisa mengambil keputusan demi kepentingan banyak orang. Pemimpin adalah orang yang tidak cepat tersinggung, tidak mudah putus harapan, tidak lari dari persoalan, harus bertanggung jawab. Jika demikian halnya maka ia tidak membawa sentimen pribadi dalam mengambil kebijakan demi kepentingan bersama. Pemimpin yang baik adalah ia yang tidak mencampur adukan segala persoalan hidupnya ke dalam urusan kerja. ia tidak membawa persoalan pribadi, rumah tangga, ke dalam lingkungan kerja, ia harus professional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUDIDAYA MERANTI

CINTA TERHALANG SIGNAL

FITRAH, FITNAH DAN FITNES